<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blog PlasaWaralaba.com</title>
	<atom:link href="http://blog.plasawaralaba.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.plasawaralaba.com</link>
	<description>Maju Terus Waralaba Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Wed, 28 Nov 2007 01:57:50 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Pemerintah Petakan Usaha Waralaba</title>
		<link>http://blog.plasawaralaba.com/2007/11/28/pemerintah-petakan-usaha-waralaba/</link>
		<comments>http://blog.plasawaralaba.com/2007/11/28/pemerintah-petakan-usaha-waralaba/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Nov 2007 01:57:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>zahidayat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kliping]]></category>
		<category><![CDATA[berita]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[prospek]]></category>
		<category><![CDATA[waralaba]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.plasawaralaba.com/?p=7</guid>
		<description><![CDATA[JAKARTA - Departemen Perdagangan melakukan pemetaan potensi usaha waralaba secara nasional. Tahun depan, sistem waralaba diharapkan tumbuh semakin besar dengan variasi jenis industri yang kian banyak."Kami sedang memetakan jenis usaha apa yang bisa diwaralabakan," ujar Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Ardiansyah Parman pada akhir pekan lalu di Jakarta.

Dia mencontohkan, beberapa waktu lalu dilakukan kerja sama dengan sejumlah pemerintah daerah untuk mendorong waralaba di bidang kuliner. "Dari pusat jajanan yang dibangun, pemerintah memantau jenis usaha mana yang terbaik dan layak dibantu pengadaan sarananya dan dibina. Jika berkembang, akan diuji apakah sistemnya bisa diwaralabakan," katanya.

Meski pertumbuhan usaha waralaba ini cukup tinggi di dalam negeri, pemerintah hingga kini tidak mentargetkan pertumbuhan waralaba di suatu angka tertentu.

Sebagai catatan, Data Perhimpunan Waralaba dan Lisensi Indonesia (Wali) menyebutkan pertumbuhan waralaba asing--pemegang master franchise/lisensi--pada 2006 mencapai 12 persen atau lebih tinggi dari pada pertumbuhan waralaba lokal sebesar 8 persen.

Sebanyak 95 persen dari waralaba&#8230;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JAKARTA</strong> &#8211; Departemen Perdagangan melakukan pemetaan potensi usaha waralaba secara nasional. Tahun depan, sistem waralaba diharapkan tumbuh semakin besar dengan variasi jenis industri yang kian banyak.&#8221;Kami sedang memetakan jenis usaha apa yang bisa diwaralabakan,&#8221; ujar Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Ardiansyah Parman pada akhir pekan lalu di Jakarta.</p>
<p>Dia mencontohkan, beberapa waktu lalu dilakukan kerja sama dengan sejumlah pemerintah daerah untuk mendorong waralaba di bidang kuliner. &#8220;Dari pusat jajanan yang dibangun, pemerintah memantau jenis usaha mana yang terbaik dan layak dibantu pengadaan sarananya dan dibina. Jika berkembang, akan diuji apakah sistemnya bisa diwaralabakan,&#8221; katanya.</p>
<p>Meski pertumbuhan usaha waralaba ini cukup tinggi di dalam negeri, pemerintah hingga kini tidak mentargetkan pertumbuhan waralaba di suatu angka tertentu.</p>
<p>Sebagai catatan, Data Perhimpunan Waralaba dan Lisensi Indonesia (Wali) menyebutkan pertumbuhan waralaba asing&#8211;pemegang <em>master franchise</em>/lisensi&#8211;pada 2006 mencapai 12 persen atau lebih tinggi dari pada pertumbuhan waralaba lokal sebesar 8 persen.</p>
<p>Sebanyak 95 persen dari waralaba itu adalah lisensi asing, yang beroperasi di Indonesia dan bermitra dengan perusahaan besar nasional. Sisanya, waralaba lokal yang tumbuh dari usaha kecil dan menengah.</p>
<p>Perkembangan bisnis waralaba dan lisensi pada 2007 diprediksi bakal semakin marak, terutama dengan hadirnya waralaba asing dari Cina, India, dan beberapa negara Timur Tengah. Adapun waralaba lokal bakal semakin berkembang tahun depan, terutama setelah perbankan nasional berjanji membiayai sektor usaha tersebut.</p>
<p>Sementara ini, kata Ardiansyah, waralaba sering kali muncul di bidang kuliner meskipun tak ada pembatasan jenis sektor yang diwaralabakan. &#8220;Sebenarnya, bidang usaha apa saja bisa asal punya sistem. Jika tidak punya sistem, akan sulit diduplikasi oleh pembeli waralaba. Karena sebenarnya waralaba tak hanya menjual produk bagus, tapi juga sistem. Sistem yang dimaksud bisa seperti penampilan, pengemasan, promosi, dan lain-lain,&#8221; katanya. <strong>RR ARIYANI</strong></p>
<p>Koran Tempo, 5 November 2007</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.plasawaralaba.com/2007/11/28/pemerintah-petakan-usaha-waralaba/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membeli Waralaba Setelah Usia 55</title>
		<link>http://blog.plasawaralaba.com/2007/11/27/membeli-waralaba-setelah-usia-55/</link>
		<comments>http://blog.plasawaralaba.com/2007/11/27/membeli-waralaba-setelah-usia-55/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Nov 2007 04:26:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>zahidayat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips]]></category>
		<category><![CDATA[franchise indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<category><![CDATA[waralaba]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.plasawaralaba.com/?p=6</guid>
		<description><![CDATA[Dulu ketika seseorang memasuki usia 55, biasanya orang tersebut akan mempertimbangkan untuk pensiun. Namun, sekarang 55 seperti baru 35. Yang usianya 50-an, kini menyadari mereka memiliki banyak hal tersisa yang bisa ditawarkan dan juga pengalaman. Mereka banyak menghabiskan waktu bukan memikirkan pensiun, namun menghitung apa yang mereka ingin kerjakan untuk masa dewasa yang kedua kalinya.

Banyak yang berada dalam golongan ini adalah kumpulan kosong yang mempunyai waktu dan energi untuk panggilan baru. Banyak pula yang menyadari setelah bertahun-tahun di dunia perusahaan kemudian mereka menginginkan fleksibiltas dan kesempatan lebih yang hasilnya langsung terkait dengan kerja.

Apkah tujuannya untuk menghasilkan kekayaan, untuk memberi dan membantu orang lain atau agar tetap memiliki kesibukan dan kreativitas, maka kian banyak orang di atas usia 55 berpikir untuk mengejar American Dream bagi mereka. Kita menyaksikan banyak di antara mereka beralih ke peluang franchise sebagai alternatif untuk memulai bisnis mereka dari awal.

Franchise memiliki sejarah yang dinamis.&#8230;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dulu ketika seseorang memasuki usia 55, biasanya orang tersebut akan mempertimbangkan untuk pensiun. Namun, sekarang 55 seperti baru 35. Yang usianya 50-an, kini menyadari mereka memiliki banyak hal tersisa yang bisa ditawarkan dan juga pengalaman. Mereka banyak menghabiskan waktu bukan memikirkan pensiun, namun menghitung apa yang mereka ingin kerjakan untuk masa dewasa yang kedua kalinya.</p>
<p>Banyak yang berada dalam golongan ini adalah kumpulan kosong yang mempunyai waktu dan energi untuk panggilan baru. Banyak pula yang menyadari setelah bertahun-tahun di dunia perusahaan kemudian mereka menginginkan fleksibiltas dan kesempatan lebih yang hasilnya langsung terkait dengan kerja.</p>
<p>Apkah tujuannya untuk menghasilkan kekayaan, untuk memberi dan membantu orang lain atau agar tetap memiliki kesibukan dan kreativitas, maka kian banyak orang di atas usia 55 berpikir untuk mengejar American Dream bagi mereka. Kita menyaksikan banyak di antara mereka beralih ke peluang franchise sebagai alternatif untuk memulai bisnis mereka dari awal.</p>
<p>Franchise memiliki sejarah yang dinamis. Ray Kroc  di usia 50-an ketika memulai McDonald’s, sedangkan Kolonel Sanders lebih dari 65 saat mengawali Kentucky Fried Chicken. Banyak pewaralaba aktif mencari terwaralaba yang lebih dari 55, sebab mereka memiliki pengalaman, kearifan dan sumber daya kapital yang telah dikembangkannya sehingga bisa menopang secara baik waralaba.</p>
<p>Jika anda menginginkan waralaba bagus yang cocok bagi anda sebagai terwalaba manula, pertimbangkan elemen-elemen suksesnya waralaba berikut ini:</p>
<p>Pahami peranan waralaba. Selalu penting untuk memahami apa yang akan kerjakan dari hari ke hari. Dalam waralaba, hal ini mungkin kecil seperti melayani konsumen dengan produk atau jasa, ketika fokus anda mungkin pada bisnis yang lain. Ingat juga bahwa setelah bertahun-tahun mempunyai bos, kini anda akan menjalaninya, dan berarti perlu nyaman dengan tanggung jawab tersebut.</p>
<p>Berusaha nyaman melakukan pekerjaan di semua tingkatan. Setelah menghabiskan tahunan di dunia perusahaan anda mungkin tidak bisa lagi mendelegasikan pekerjaan. Anda perlu secara hati-hati mempertimbangkan apakah anda akan oke bertindak sebagai CEO hingga mengurus toilet.</p>
<p>Meletakkan aset pribadi anda dalam risiko. Kebanyakan orang mengakumulasi aset yang substansial ketika mencapai usia 50-an dan mungkin tak menginginkan risiko atas aset tersebut.  Pertimbangkan dengan hati-hati sumber keuangan yang akan dipakai membiayai bisnis anda khususnya jika dari rekening pensiun, sebelum mencari waralaba.</p>
<p>Ubah gaya hidup anda. Banyak yang ketika mencapai usia 55 mereka memutuskan ingin lebih bergaya fleksibel yang memebrikan banyak waktu, kesempatan bepergian, atau prioritas lain. Ketika menginvestigasi bisnis waralaba potensial, pastikan peranan terwaralaba hubungannya dengan masalah gaya hidup.</p>
<p>Siapkan rencana keluar (exit plan). Meskipun hal ini menjadi pertimbangan penting bagi semua terwaralaba (franchisee), namun lebih khusus untuk mereka yang sudah lewat usia 55. Putuskan berapa lama lagi anda ingin bekerja dan apa yang akan dilakukan jika anda sudah menemui saat dimana tak ingin melakukannya lagi. Apakah anda ingin menjual atau mewariskannya. Anda sebaiknya memulai proses ini (waralaba) dengan menetapkan akhirnya di benak.</p>
<p>Anda bisa mendapatkan pengalaman menyenangkan selama proses menemukan kembali (reinventing) diri anda dalam hidup ini. Anda mendapatkan peluang bagus kedua untuk membangun hidup yang lebih berarti bagi anda dan juga memberikan pengambalian finansial. Hal yang perlu dilakukan adalah meluangkan waktu untuk sungguh-sungguh berpikir apa yang diinginkan dengan kepemilikan bisnis tersebut dan investigasi semua peluang secara baik untuk memastikan bahwa anda memilih yang memberikan sesuautu yang penting menurut anda.</p>
<p>Pilih waralaba yang anda inginkan menjadi terwaralaba. Anda akan sangat populer ketika memulai mengontak mereka, sebab pengalaman hisup anda, kecerdasan bisnis dan stabilitas keuangan. Anda bisa membantu kedua sisi transaksi dengan mengomunikasikan kepada diri anda dan perusahaan waralaba diman anda hendak menjalankan bisnis dan apa yang ingin anda capai. Dengan sedikit ketelitian dan gagasan, tahun-tahun terbaik akan ada di hadapan anda.</p>
<p>Jeff Elgin | Entrepreneur.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.plasawaralaba.com/2007/11/27/membeli-waralaba-setelah-usia-55/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>3 Rahasia Sukses Waralaba</title>
		<link>http://blog.plasawaralaba.com/2007/11/22/3-rahasia-sukses-waralaba/</link>
		<comments>http://blog.plasawaralaba.com/2007/11/22/3-rahasia-sukses-waralaba/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Nov 2007 01:54:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>zahidayat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<category><![CDATA[waralaba]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.plasawaralaba.com/?p=5</guid>
		<description><![CDATA[Dengan kian banyaknya orang memutuskan serius menjadi franchisee, salah satu pertanyaan kunci yang sering ditanyakan apakah yang harus saya persiapkan agar menjadi franchisee yang sukses?

Kabar bagusnya, banyak hal bisa dilakukan untuk menjadikan hal ini pengalaman yang berhasil. Berikut adalah 3 rahasia sukses tersebut.

1. Sebelum anda melirik satu peluang waralaba, sebaiknya anda membuat persiapan. Proses ini diawali dengan memahami diri anda dan mengetahui pengertian yang jelas tentang siapa anda dan apa yang anda inginkan dengan bisnis franchise. Anda harus awali dengan berpikir dan melalui proses penilaian-diri (self examination) dengan mengajukan pertanyaan seperti:

Apa yang anda ingin dan tidak ingin lakukan dalam lingkungan kerja? Aspek bisnis apa yang telah memberikan keberhasilan dan kepuasan pada anda di masa sebelumnya? Bagaimana perasaan anda apabila mengelola karyawan? Berapa jam anda bersedia bekerja? Apa karakteristik umum pekerjaan yang sempurna bagi anda?

Bagaimana anda menyikapi risiko? Berapa dana yang anda ingin investasikan dalam franchise? Berapa&#8230;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dengan kian banyaknya orang memutuskan serius menjadi franchisee, salah satu pertanyaan kunci yang sering ditanyakan apakah yang harus saya persiapkan agar menjadi franchisee yang sukses?</p>
<p>Kabar bagusnya, banyak hal bisa dilakukan untuk menjadikan hal ini pengalaman yang berhasil. Berikut adalah 3 rahasia sukses tersebut.</p>
<p>1. Sebelum anda melirik satu peluang waralaba, sebaiknya anda membuat persiapan. Proses ini diawali dengan memahami diri anda dan mengetahui pengertian yang jelas tentang siapa anda dan apa yang anda inginkan dengan bisnis franchise. Anda harus awali dengan berpikir dan melalui proses penilaian-diri (self examination) dengan mengajukan pertanyaan seperti:</p>
<p>Apa yang anda ingin dan tidak ingin lakukan dalam lingkungan kerja? Aspek bisnis apa yang telah memberikan keberhasilan dan kepuasan pada anda di masa sebelumnya? Bagaimana perasaan anda apabila mengelola karyawan? Berapa jam anda bersedia bekerja? Apa karakteristik umum pekerjaan yang sempurna bagi anda?</p>
<p>Bagaimana anda menyikapi risiko? Berapa dana yang anda ingin investasikan dalam franchise? Berapa nilai utang yang anda mungkin ambil untuk menutup dana investasi awal? Berapa lama anda bisa beroperasi tanpa pendapatan dari franchise dan bisa tidur nyenyak saat malam?</p>
<p>Apa tujuan anda memiliki franchise? Apa yang diharapkan terselesaikan dalam hidup anda dengan bisnis ini? Perubahan seperti apa yang diinginkan  dalam beberapa tahun ke depan jika anda sukses dengan bisnis franchise?</p>
<p>Sekali anda menyelesaikan penilain diri, semestinya anda telah memiliki ide yang jelas dan bukan sekadar parameter umum mengenai apa yang diinginkan dari franchise. Lebih penting lagi, anda akan mengetahui apa yang harus dituntaskan dalam jangka panjang. Pengetahuan ini vital untuk memilih franchise yang tepat dan menghindari menjual sesuatu yang sesungguhnya tak cocok dengan tujuan yang anda inginkan.</p>
<p>2. Kerucutkan peluang-peluang. Awali dengan menyortir peluang lewat “kacamata” pengalaman kerja yang anda miliki. Dalam kebanyakan hal objektif yang mungkin, bandingkan apa yang anda pelajari tentang suatu peluang franchise yang telah diinvestigasi dengan pertanyaan-pertanyaan di atas, dan tanyakan pada diri anda, apakah peluang ini sama dengan yang anda diinginkan, tak hanya sebagian tetapi secara keseluruhannya?</p>
<p>Jika jawabannya bukan, anda perlu disiplin untuk mencari peluang lain. Banyak sekali peluang tersedia, karena itu jangan kompromi dengan sesuatu yang menurut anda amat penting. Cepat atau lambat, anda akan menemukan jenis yang sesuai dengan talenta dan tujuan, sehingga terus perhatikan.</p>
<p>3. Percaya dengan verifikasi. Anda sudah menyisihkan waktu untuk mengetahui apa yang anda inginkan dan menetapkan peluang yang spesifik yang diharapkan memberikan apa yang anda sedang cari. Kini saatnya bagi anda untuk memverifikasi apakah konklusi anda faktanya sudah benar.</p>
<p>Terdapat sejumlah langkah yang anda harus lakukan dalam proses verifikasi ini, meliputi:</p>
<p>Menyebutkan franchise yang sudah ada. Anda mungkin sudah berbicara kepada terwaralaba (franchisee) untuk mengetahui perasaan mereka  dalam bisnis itu. Sekarang saatnya lebih spesifik. Pilih sejumlah orang yang kelihatan kooperatif dan jabarkan rencana dan ekspektasi yang spesifik.</p>
<p>Katakan sesuatu seperti, di sini saya bagus, ini yang saya ingin kerjakan, ini yang mau saya selesaikan agar franchise memberikan hal-hal pasti tersebut bagi saya. Tanyakan kepada mereka apa tantangan signifikan yang menurut mereka mungkin anda hadapi. Tetaplah berhubungan hingga anda yakin telah mendapatkan yang diinginkan.</p>
<p>Membuntuti Franchisee. Tanyakan pada seorang atau lebih apakah anda diperbolehkan mengikuti rutinitas harian mereka. Anda tak perlu melakukannya sepanjang bulan atau tahun, cukup dengan beberapa hari aktivitas ini akan memberikan anda perspektif baru tentang franchise. Sebagai variasinya, anda juga bisa meminta untuk bekerja sebagai karyawan untuk beberapa hari agar merasakan operasi bisnis tersebut.</p>
<p>Berhubungan secara sungguh-sungguh dengan pewaralaba. Diskusikan rencana spesifik dengan pewaralaba, terutama pegawai bagian dukungan operasional dan eksekutif perusaahaan. Mereka akan mengapresiasi setiap pemikiran yang hendak anda lakukan dan biasanya mereka juga akan berterimakasih atas hal itu.</p>
<p>Demikian pula, anda harus menjaga hubungan baik dengan bagian penjualan yang dengannya anda sering berhubungan, serta ingat dalam benak bukan dengan orang itu saja kita mencari masukan dalam proses verifikasi ini.</p>
<p>Kini anda telah menyelesaikan tiga tahapan yang menjadi rahasia sukses menjalankan waralaba. Anda sekarang siap untuk memebuat keputusan besar. Saatnya melangkah ke depan dengan  jaminan anda telah mempersiapkan diri untuk menyongsong pengalaman yang diwarnai kesuksesan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.plasawaralaba.com/2007/11/22/3-rahasia-sukses-waralaba/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mitos Seputar Bisnis Waralaba</title>
		<link>http://blog.plasawaralaba.com/2007/11/21/mitos-seputar-bisnis-waralaba/</link>
		<comments>http://blog.plasawaralaba.com/2007/11/21/mitos-seputar-bisnis-waralaba/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Nov 2007 07:13:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>zahidayat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[mitos]]></category>
		<category><![CDATA[waralaba]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.plasawaralaba.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[Dalam merencanakan bisnis apa pun, anda tak bisa mengandalkan informasi yang didapat hanya selintasan. Meski 95 persen bisnis franchise sukses, namun terdapat sejumlah mitos yang berpotensi menjerumuskan “franchisee” pada kegagalan.

Hal ini mungkin terjadi, jika entrepreuneur memasuki bisnis franchise hanya dilandasi ekspektasi tinggi namun kurang memahami realitas bisnis sesungguhnya.

Karena itu, sikap realistis dan kehati-hatian penting diperhatikan ketika hendak membuka bisnis baru, baik dengan merek yang sudah “established” maupun yang dirintis dari awal.

Selain menimbang pro dan kontra tentang bisnis franchise tertentu, anda bisa melakukan survei pendahuluan. Jangan gampang menerima pendapat “orang lain” dan pertimbangkan baik-baik apa yang dikatakan kepada anda termasuk yang dijelaskan “franchisor”.

Mitos 1: Franchise adalah garansi kesuksesan dalam dunia bisnis
Realitas: Alasan pokok keberhasilan franchise disebabkan persyaratan mereka yang ketat (rigorous). Misalnya, banyak franchise yang mensyaratkan investasi besar.

Banyak investasi amat substansial nilainya. Karena itu, hanya entrepreuneur yang serius saja yang boleh mengikat kontrak.

Dari sekian&#8230;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam merencanakan bisnis apa pun, anda tak bisa mengandalkan informasi yang didapat hanya selintasan. Meski 95 persen bisnis franchise sukses, namun terdapat sejumlah mitos yang berpotensi menjerumuskan “franchisee” pada kegagalan.</p>
<p>Hal ini mungkin terjadi, jika entrepreuneur memasuki bisnis franchise hanya dilandasi ekspektasi tinggi namun kurang memahami realitas bisnis sesungguhnya.</p>
<p>Karena itu, sikap realistis dan kehati-hatian penting diperhatikan ketika hendak membuka bisnis baru, baik dengan merek yang sudah “established” maupun yang dirintis dari awal.</p>
<p>Selain menimbang pro dan kontra tentang bisnis franchise tertentu, anda bisa melakukan survei pendahuluan. Jangan gampang menerima pendapat “orang lain” dan pertimbangkan baik-baik apa yang dikatakan kepada anda termasuk yang dijelaskan “franchisor”.</p>
<p>Mitos 1: Franchise adalah garansi kesuksesan dalam dunia bisnis<br />
Realitas: Alasan pokok keberhasilan franchise disebabkan persyaratan mereka yang ketat (rigorous). Misalnya, banyak franchise yang mensyaratkan investasi besar.</p>
<p>Banyak investasi amat substansial nilainya. Karena itu, hanya entrepreuneur yang serius saja yang boleh mengikat kontrak.</p>
<p>Dari sekian banyak yang membeli hak franchise dan terjun ke dalam tersebut, tak semuanya didukung aset yang memungkinkan mereka bisa menunggu imbal balik investasi.</p>
<p>Faktanya, seringkali diperlukan waktu cukup lama bagi sebuah franchise sampai menghasilkan keuntungan. Hal ini disebabkan investasinya besar, royalti, dan biaya lainnya. Karena itu, kekurangan modal (undercapitalization) kerap menjadi penyebab kegagalan franchise.</p>
<p>Mitos 2: Anda bisa menjadi bos<br />
Realitas: Meski anad menikmati kelebihan sebagai pemilik bisnis, namun anda masih dibatasi oleh sistem operasi yang digariskan franchisor. Contohnya, jam operasi bisnis, peralatan dan perlengkapan yang disetujui, serta perangkat pemasaran.</p>
<p>Mitos 3: Membeli franchise tak terlalu mahal ketimbang merintis bisnis sendiri<br />
Realitas: Biaya awal untuk membeli franchise kadang nilainya sama dengan membangun bisnis sendiri dari bawah.</p>
<p>Hal ini wajar jika nilai bangunan, peralatan, dan perlengkapan dibandingkan dengan franchise fee (yang meingizinkan pemakaian nama, logo, merek dagang, dan dalam kasus tertentu material pemasaran). Lalu ditambah dengan keuntungan yang masih harus dikurangi royalti.</p>
<p>Tentu saja alasan ini tak perlu menyurutkan anda. Kenyataannya,  kunci mengelola franchise yang menguntungkan adalah menemukan peluang bisnis yang benar-benar tepat untuk anda.</p>
<p>Mitos 5 : Franchise jalan bebas stres untuk memulai bisnis<br />
Realitas : Membangun bisnis apa pun bisa menimbulkan stres dalam masa tertentu. Sekalipun franchise menawarkan banyak manfaat seperti nama yang sudah dikenal, infrastruktur kerja dan kampanye lewat iklan, namun franchise tak kebal (immune) dari naik-turun nya kepemilikan bisnis.</p>
<p>Faktanya, segala manfaat itu datang bersama sejumlah persyaratan. Tak hanya mengharuskan franchisee beroperasi dengan berbagai ketentuan (guidelines) seperti dijelaskan sebelumnya, namun mereka juga bertanggung jawab sepenuhnya atas sukses keuangan dari bisnis yang dijalankan.</p>
<p>Contohnya, jika franchise mengalami penurunan penjualan lebih dari satu bulan. Tak hanya kehilangan pendapatan, franchisee juga harus memberikan penjelasan kepada franchisor kenapa itu terjadi.</p>
<p>Mitos 6 : Memiliki franchise berarti anda tak perlu berurusan dengan karyawan<br />
Fakta : membangun  bisnis apa pun tak hanya memerlukan investasi keuangan, tetapi juga waktu dan tenaga. Anda akan tetap menghabiskan waktu, sesedikit apa pun, untuk memastikan segala sesuatunya berjalan dengan lancar. Dan hal ini memerlukan komunikasi dan konsekuensinya memerlukan waktu untuk terus berhubungan dengan karyawan.</p>
<p>Mitos 7: Anda selalu diproteksi dari kompetisi yang berasal dari franchise lain yang satu area<br />
Fakta : Hal ini bergantung pada kontrak yang dibuat. Jika kesepakatannya kuat, anda akan terlindung dari kompetisi tak diinginkan. Selain itu, anda juga harus memperhatikan baik-baik klausul jangka waktu kapan wilayah anda terbuka untuk negosiasi.</p>
<p>Jalan untuk mencapai kesepakatan terbaik dengan franchisor, gunakanlah jasa konsultan hukum untuk menelaah dokumen-dokumen penting sebelum menyepakati semu ketentuan yang ada di dalamnya.</p>
<p>Mitos 8: Jaringan bisnis paling populer (dan menguntungkan) adalah franchise</p>
<p>Fakta: Meski banyak studi menunjukkan franchise memberikan pengembalian investasi lebih besar ketimbang yang lain, namun tak semua jaringan bisnis menguntungkan adalah franchise.</p>
<p>Kasus seperti Starbucks, dijalankan dengan model perusahaan pribadi. Hal ini berarti, perusahaan memiliki tiap outlet, akan tetapi diperlukan manajer yang direkrut untuk menjalankan semua itu.</p>
<p>Dalam bisnis apa pun, calon pemilik harus menyiapkan diri untuk bekerja keras, meluangkan waktu, dan dalam kasus tertentu menyediakan modal. Satu-satunya jalan yang memberi garansi kesuksesan adalah menemukan bisnis yang benar-benar memanfaatkan (utilisasi) semua sumber daya yang tersedia di tangan anda.</p>
<p>Akhirnya, tetap optimistis sepanjang anda memahami perlunya dedikasi tinggi untuk menjalankan bisnis prospektif, termasuk franchise.</p>
<p>Sumber: franchisegator.com/plasawaraba.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.plasawaralaba.com/2007/11/21/mitos-seputar-bisnis-waralaba/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

